Essay_Kaum Urban

Sebuah title yang melekat saat tekad dalam diri merambat untuk mengangkat sebuah taraf kehidupan di suatu tempat yang bisa mengubah pola hidup dari tatanan masyarakat desa menjadi masyarakat kota, ketika mereka mamasuki kota tersebut , maka lain cerita dengan di desa, yang memang serba kekurangan, fasilitas kehidupan yang dirasa tidak nyaman  yang penuh keluh kesah diiringi gundah dan gelisah.
Namun, semua itu lenyap begitu saja, saat awal kita memijakan kaki di kota yang penuh tanda tanya, Bisa kita rasakan bagaimana saat kita mencari alamat selalu disuguhkan dengan jawaban "saya tidak tahu, saya bukan asli orang sini". Urbanisasi telah menciptakan sebuah budaya apatis yang sangat tinggi, sehingga menjadikan setiap orang adalah orang asing di tempat sendiri.

Angan merasa akan hal yang kita punya di rasa tidak ada apa-apanya dengan mereka yang sudah menetap lama di kota, menahan segala rasa yang membuat kita menderita karena tidak tahu kehidupan di kota,

Susah rasanya berbaur di kota, apa yang kita inginkan harus berusaha keras, sedih memang ketika kita menginginkan kebahagiaan hidup di kota malah lebih menderita.

Kota memang penuh kontradiksi, seringkali kota adalah tujuan utama para pencari kerja tapi di sisi lain digambarkan sebagai momok kehidupan yang , keras, berbahaya dan sarat akan ancaman. Namun kota menyimpan segala macam rupa cerita perjuangan hidup orang seolah nampak di depan mata. Semua itu dibalut oleh sudut-sudut kota yang menjulang yang menampilkan keperkasaan serta kemegahan.

Penulis selaku mahasiswa juga merasakan dinamika penduduk kota yang luar biasa pengaruhnya terhadap orang-orang urban baru, contoh nyatanya adalah ketika penulis sudah berada di lingkungan kota, bergaul dengan orang-orangnya, dan mulai menganut budayanya, semua tabiat asal pun berubah.

Orang yang sebelumnya tidak terbiasa dengan brand-brand kapital, saat menyesuaikan dengan keadaan ia malah menjadi pecandu ideologi kapitalis itu sendiri.

Seperti apa buktinya? Orang yang terbiasa berbelanja di pasar tradisional, memakan jajanan warung, memasak makanan sendiri, berpakaian sopan seadanya, menggunakan produk lokal, dan bergaul dengan teman-teman sebaya di ruang terbuka kini berubah total.

 Mal telah menggeser ekonomi lokal dengan melahirkan manusia konsumerisme dan membuat mereka lebih berbangga membeli produk junkfood, berjalan gontai di lantai mal sambil menikmati es krim, lebih memilih pakaian-pakaian branded, dan menjadikan mal sebagai tempat rekreasi.

Kemunafikan gaya hidup adalah jalan pintas agar mampu menyamakan status sosial antar satu dengan yang lain, prinsip masyarakat urban adalah "mau ada uang atau tidak, saya harus hidup dengan gaya orang kota" melalui prinsip seperti ini kita tidak heran lagi apabila orang-orang dengan status ekonomi menengah kebawah rela mati-matian untuk memoles diri dengan gaya hidup mal dengan budget terbatas, sehingga kita tidak benar-benar tahu apakah orang-orang yang berlalu lalang di dalam mal adalah mereka si kaya.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku: Bertahan

Cerpen (Kisah mistis gua conglay)