Cerpen (Kisah mistis gua conglay)
Kisah ini berawal ketika aku berumur 14 tahun
pada saat itu aku berencana untuk mendaki Gunung Solasih. Sebenarnya gunung itu seperti bukit tetapi, karena warga desa biasa menyebutnya gunung, maka sampai sekarang disebut gunung solasih. Gunung ini terletak di desa babakan nyantai sekitar 4 km dari desaku.
Teriknya matahari membakar semangatku untuk memulai rencana hari ini, aku bersama 9 temanku, yaitu andri, indra, hariri, rian, kizwin, adit, zaki, iki, dan deni. Kami berkumpul di lapangan untuk mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa, kami membawa terpal yang nanti nya akan dijadikan sebagai tenda. "Sekarang kita kumpul dulu, untuk mempersiapkan barang-barang, kita mulai berangkat jam 3 sore" ujar Andri.
Tepat pukul 3 sore kami berangkat, kami menyusuri jalan setapak diantara hamparan sawah, padi-padi yang berjejer sangat memanjakan mata, mengingat bahwa alam pedesaan sangat sejuk dan nyaman, setelah melawati jalan setapak akhirnya kami tiba di hutan. Ketika memasuki hutan tersebut, kami melihat 1 rumah yang jauh dari permukiman warga, kami disambut dengan gonggongan gerombolan anjing yang mungkin sengaja dipelihara oleh pemilik rumah tersebut, kami panik dan berlari sekencang mungkin, aku berada di depan dan ku ingat zaky yg berlari paling belakang terpeleset dan terjatuh. Kami berhenti dan menyadari bahwa anjing tersebut tidak mengejar dan kami malah menertawakan zaky yang terjatuh. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sambil tertawa terbahak-bahak. Kami banyak mengobrol di sepanjang jalan dan tak sadar matahari hampir terbenam. "Kaya nya kita muncak kesorean deh, kalo dilanjutkan bahaya, soalnya masih jauh. Sedangkan sebentar lagi malam" kata hariri. "Yaudah kita cari tempat yang bagus buat ngediriin tenda" sahut adit.
Beberapa lama kemudian akhirnya kami menemukan tempat yang cukup luas dan tidak tertutup pepohonan, tanpa kami sadari disana ada sungai kecil dan gua, akhirnya kami membuat tenda yang dekat dengan gua tersebut. "Yaudah kita bikin tenda disini ajh lagian deket dengan air jadi kalo mau apa-apa gampang" kata Andri.
Ketika pukul 18:00 kami solat magrib di tenda, seiring berjalannya waktu suasana malam pun mulai mencekam, suara-suara aneh mulai terdengar sehingga bulu kudukku merinding, tidak hanya aku, teman-temanku juga merasakan hal yang sama dan kami pun ketakutan. Kami berdiam di tenda tidak ada satupun yang berani keluar.
Tak lama kemudian suara handphone hariri berdering. "Hallo i kamu dimana"ujarnya
"Di hutan" ucap hariri.
Suara itu terdengar seperti seorang wanita, orang yang menelpon hariri ternyata fitri teman yang berada di desaku, dia menanyakan kabar keberadaan kami, katanya orang tua kami mengkhawatirkan kami, dan akan menjemput ke tempat kami bermalam.
Pukul 9 malam terdengar teriakan banyak orang, memanggil nama kami, awalnya kami kaget, akhirnya kami pun membalas teriakan tersebut. Ternyata suara terikan itu adalah orang tua kami. Orang tua kami pun langsung menghampiri, ayahku langsung menghampiriku "kalo mau kemana-mana itu bilang dulu" sambil menamparku"
Ayahku sangat marah karena emang dari awal aku ijin untuk menginap di rumah temanku bukan untuk bermalam di gunung, aku pun terdiam dan tidak berkata-kata lagi.
Orang tua dari teman-temanku pun melakukan hal yang sama, dimarahi dan beberapa dipeluk karena bersyukur telah dipertemukan keluarganya.
Kami pulang bersama-sama dengan orang tua sembari mengobrol di jalan menceritakan tempat yang kami singgahi.
Saat sampai di jalan masuk perbatasan desaku terlihat beberapa warga menyambut kepulangan kami, beberapa ibu kami langsung memeluk. Setelah itu kami berkumpul di rumah rian karena,
Andri menyarankan untuk berkumpul di rumah rian, disana kami mengadakan makan malam bersama.
Ayah rian menceritakan sejarah gua yang tadi kami singgahi, ternyata dulu nya ada orang cina yang masuk ke gua itu tetapi orang tersebut tidak kembali lagi sampai sekarang. Orang cina itu bernama conglay sampai sekarang gua itu di sebut sebagai gua conglay. Itulah alasan orang tua kami menjemput kami, karena gua itu sangat angker, jika ada orang yang masuk ke dalam gua tersebut maka orang itu tidak akan kembali lagi. Untungnya aku dan temanku tidak memasuki gua tersebut, dan bersyukur masih di beri perlindungan oleh tuhan.
Komentar
Posting Komentar